

“Bukan sesuatu yang baru,” kata Harry Hudaya, Ketua Jurusan Periklanan Interstudi sekaligus “bapak”-nya anak-anak komunitas pelaku grafiti ‘Artoholic’ ketika ditanya pendapatnya mengenai eksistensi grafiti / mural di Indonesia.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa grafiti / mural sudah ada sejak jaman Soeharto, jaman Soekarno, jaman Jepang dan Belanda, bahkan jaman primitif. Fungsi grafiti / mural bermacam-macam, namun intinya sebagai bentuk komunikasi dan penyampaian ekspresi. Grafiti dulu lebih banyak ditujukan untuk kritik sosial & politik, seperti coretan kalimat “Merdeka atau mati”, “Adili Soeharto”, “Gantung Soeharto”, dll. Kemudian seiring berubahnya jaman, grafiti / mural pun berganti tren menjadi ajang untuk narsis almamater sekolah/kampus, geng atau komunitas. Yang paling sering ‘tampil’ di jalanan sih, nama-nama STM.
Tapi selain itu, banyak juga bermunculan grafiti / mural yang menonjolkan seni tersendiri, yang nggak hanya asal nyemprotin pilox ke tembok trus bikin kalimat-kalimat kritis atau narsis dengan font yang sangat plain, melainkan penulisan dengan tipografi yang nyeni –dan akhirnya menjadi khas grafiti-, juga gambar-gambar yang bagus, lucu, unik dan menggoda. Meski tetap ada unsur kritik sosial, namun disain jauh lebih kreatif. Seperti yang terlihat pada grafiti yang di-demo-kan anggota komunitas Artoholic: “Orang Iklan Nggak Pinter Bikin Iklan Tentang Dunia Iklan”. Sebuah kritik yang ditujukan oleh orang-orang periklanan, yang keluar dari anak-anak iklan itu sendiri.
Jika grafiti diartikan wikipedia sebagai kegiatan seni rupa yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan kalimat tertentu di atas dinding dengan menggunakan cat semprot kaleng (pilox); mural nggak jauh beda dengan grafiti, hanya saja alat yang digunakan bukan pilox, tapi cat tembok. Nama mural dipatenkan sejak Perang Dunia II, tepatnya di Mexico ketika akan menjadi California (zaman penjajahan), kemudian muncullah mural dan grafiti yang berupa sindiran-sindiran terhadap pemerintah. Pada masa itu mural ‘n grafiti berfungsi sebagai penanda geng, identitas yang menunjukkan wilayah mereka. Kedua kegiatan ini sama-sama dikategorikan dalam street art atau seni jalanan.
Grafiti / Mural = Vandalisme ?
Bagi sebagian orang, grafiti/mural merupakan vandalisme karena merusak tembok/dinding yang sedianya mulus dan bersih, namun bagi penggemar seni, grafiti dan mural dilihat sebagai salah satu bentuk seni yang memiliki kreativitas. RazQ, salah satu muralis jalanan yang berstatus sebagai mahasiswa DKV Usakti, beranggapan bahwa selama tidak mengurangi nilai estetis dan nilai fungsi, grafiti ‘n mural itu bukan vandalisme. Di kampus A Universitas Trisakti, mural dijadikan sebagai dekorasi / penghias tempat nongkrong dan kantin. Begitulah dunia grafiti dan mural. Penuh kontroversi. Makanya dalam melaksanakan aksinya (istilahnya ngebom untuk grafiti; ngeblok untuk mural) para bombers dan muralis ini lebih sering melakukannya diam-diam pada tengah malam. Meski begitu, tetep aja aksi kejar-kejaran dan petak umpet dengan polisi atau pamong praja kerap mewarnai aksi tengah malam mereka.
‘Peralatan Perang’
Peralatan yang dibutuhin buat ngebom dan ngeblok adalah pilox dan masker, kapur (buat bikin sketsa), cat tembok, cat kayu, biang cat, kuas. “Jangan lupa bawa motor, biar kalo ketahuan pamong praja bisa kabur,” ujar RazQ sambil cengengesan.
Dari corat-coret jadi duit
Nah, kalo begini hasilnya, apakah pemerintah masih tetep nggak mau ngedukung ngebom ‘n ngeblok?
==
Some of The Bombers & Muralists: (mereka yang meraup keuntungan dari hobi ngebom ‘n ngeblok...)
Uwi, Advertising Interstudi
Salah satu anggota Artoholic yang ditemui dalam demo grafiti-nya Advertising Interstudi ini mengaku pernah di-hire salah satu perusahaan produsen mobil dari Jepang untuk mendesain motif/corak mobil keluaran terbaru dan limited edition. Kini ia juga lagi dalam proses dealing dengan salah satu perusahaan sepatu asing yang brand-nya terkenal dimana-mana, untuk ngeblok di sepatu tersebut.
Xait, Trisakti
Kalo Uwi masih dalam proses dealing, Xait justru udah sukses ber-grafiti ria pada sneakers limited edition-nya sepatu Nike. Ia pun lagi mengembangkan usaha sepatunya (dengan disain grafiti/mural tentunya) di bawah brand “league”.
Wantek, Seni Rupa UNJ
Cowok satu ini baru aja merampungkan pesanan untuk ngeblok di temboknya SDN Keagungan, Jakarta Barat. Ia menggambar peta Indonesia, dengan gambar masing-masing Pulau di tiap tembok, agar para siswa bisa menguasai peta Indonesia. Wantek dibayar 5 juta untuk pekerjaannya itu.
Raga, mahasiswa DKV ’02 Usakti
Lebih dari tiga tahun bergelut di bidang ini, kini karya Raga telah menyebar di berbagai tempat seperti Taman Kanak-kanak, warnet, rumah makan, distro, juga untuk event pensi anak SMU yaitu membuat backdrop panggung. Bahkan ia pernah membuat mural untuk interior Pizza Hut dengan bayaran sekitar 20 juta.
(written as reported by me & gita/Flash)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar